Ditengah riuhnya kritik dan kegeraman publik atas ucapan kontroversialnya kepada wartawan, pengacara kondang justru mengambil langkah yang jarang dilakukan figur publik, meminta maaf secara terbuka. Bukan sekedar klarifikasi normatif, tetapi pengakuan bahwa emosinya telah melampaui batas profesionalisme. Dirilis hari ini, pada Selasa (21/07/2026).
Pernyataan yang sempat menyulut amarah insan pers itu muncul dalam konferensi pers terkait kasus mantan Jampidsus, ketika Hotman melontarkan kalimat, “lu punya otak nggak sih” kepada wartawan. Kalimat itu viral, dipotong, dipelintir, dan disajikan tanpa konteks utuh di media sosial, sebuah praktik yang kembali mempertanyakan etika distribusi informasi di era digital yang brutal.
Dalam video klarifikasinya, Hotman tidak mencari kambing hitam. Ia mengakui bahwa emosi memuncak karena pertanyaan berulang yang menurutnya telah dijawab.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya tidak tahu dan tidak punya kapasitas menjawab dugaan agenda tersembunyi institusi penegak hukum. Tapi karena emosi, saya terpancing,” ujarnya lugas.
Langkah ini menuai respons berbeda. Bukan lagi sekedar pembelaan diri, melainkan upaya meredam konflik dengan pendekatan humanis. Di tengah kultur publik yang kerap defensif, sikap ini menjadi anomali, dan sekaligus tamparan bagi banyak elit yang memilih bungkam atau justru menyerang balik kritik.
Ketua Umum DPP PWOD, Feri Rusdiono, SH tidak ragu memberikan apresiasi. Ia menilai tindakan Hotman sebagai bentuk kedewasaan yang layak dihormati. “Kami melihat ini sebagai sikap legowo. Hotman Paris adalah bagian dari keluarga besar pers. Tidak ada permusuhan permanen jika ada itikad baik,” tegasnya.
Lebih jauh, Feri menyentil fenomena yang lebih besar, relasi tegang antara elit hukum dan jurnalis yang sering dipenuhi ego dan miskomunikasi. Ia menegaskan bahwa pers bukan musuh, melainkan mitra kritis yang harus dihargai, bukan diremehkan, tetapi juga tidak boleh dimanipulasi oleh potongan narasi yang menyesatkan.
Kasus ini menjadi cermin keras. Di satu sisi, ucapan emosional seorang pengacara ternama bisa memicu gelombang kemarahan. Di sisi lain, cara ia merespons kritik justru membuka ruang rekonsiliasi. Di tengah atmosfer publik yang kerap penuh arogansi, sikap meminta maaf justru menjadi kekuatan, bukan kelemahan.
Kini bola ada di tangan publik dan komunitas pers. Apakah akan terus memelihara bara konflik, atau mengakui bahwa di balik sosok flamboyan, ada keberanian untuk merunduk dan memperbaiki diri?
Yang jelas, langkah Hotman Paris telah menggeser narasi, dari kontroversi menuju refleksi. Dan dalam dunia hukum yang sering keras kepala, itu adalah langkah yang tidak kecil.
Oleh: Ketum PWOD Feri Rusdiono, SH.
Penulis : Redaksi
Editor : Juli ESP
Sumber Berita: Humas PWOD Pusat





