1 Mei Jadi Momentum Refleksi Sejarah dan Persatuan Papua dalam NKRI

- Redaktur

Senin, 27 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Semangat persatuan dan pentingnya memahami sejarah bangsa kembali disuarakan oleh Steve R. E. Mara, M.Han., mahasiswa program doktoral asal Papua yang tengah menempuh studi di Inggris sekaligus Ketua Melanesian Youth Diplomacy Forum. Dalam pandangannya, pemahaman yang utuh terhadap sejarah Papua menjadi kunci untuk memperkuat persatuan dan mendorong generasi muda berkontribusi dalam pembangunan.

Steve menekankan bahwa proses integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan bagian dari dinamika panjang dekolonisasi yang melibatkan berbagai pihak di tingkat internasional. Ia menggarisbawahi bahwa berbagai tahapan, mulai dari Konferensi Meja Bundar hingga Perjanjian New York 1962, merupakan proses diplomasi yang sah dan diakui dunia internasional.

Menurutnya, tanggal 1 Mei 1963 menjadi momentum penting dalam perjalanan sejarah tersebut, karena pada saat itu Papua secara resmi diserahkan kepada Indonesia melalui mekanisme yang difasilitasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia menilai momentum ini seharusnya dipahami sebagai bagian dari perjalanan bangsa menuju persatuan, bukan dipersepsikan secara keliru.

“Ini adalah bagian dari sejarah yang harus dipahami secara utuh. Integrasi Papua merupakan hasil proses panjang yang melibatkan hukum internasional dan kesepakatan global,” ujarnya.

Lebih jauh, Steve mengajak generasi muda Papua untuk tidak terjebak dalam perdebatan masa lalu, melainkan fokus pada upaya membangun masa depan. Ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas diri melalui pendidikan serta keterlibatan aktif dalam pembangunan di berbagai sektor.

“Generasi muda Papua harus mengambil peran. Kita perlu meningkatkan kualitas diri dan bersama-sama membangun daerah serta bangsa ini,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak akurat atau narasi yang dapat memecah belah persatuan. Menurutnya, menjaga keutuhan bangsa adalah tanggung jawab bersama yang harus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat.

Dengan semangat tersebut, Steve berharap Papua dapat terus berkembang melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda, sehingga tercipta kondisi yang aman, damai, dan kondusif sebagai fondasi utama pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.

Penulis : Redaksi

Editor : Juli ESP

Sumber Berita: Divhumas Polri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kelapasatunews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Juga

Kematian Karumga Eks Jampidsus: “FRIC Desak Penyelidikan Transparan dan Tanpa Ditutupi”
Sebut Ketum PWOD: “Ini Jiwa Besar Penegak Hukum Hotman Paris Pilih Merunduk dari Ucapan Kontroversial ke Sikap Legowo”
Sebut Ketum PWOD: “Ini Jiwa Besar Penegak Hukum Hotman Paris Hutapea Pilih Merunduk dari Ucapan Kontroversial ke Ucapan Legowo”
Ketum FRIC Dian Surahman Tegaskan: “Penangkapan tak Butuh Restu Presiden, Hukum Berjalan Sesuai Aturan”
Tokoh Muslim Tionghoa: “Jembatan Kebangsaan yang tak Boleh Dulupakan” Lugas, Tajam, Berani Menatap Realitas Pluralisme Indonesia
Ikat Erat Pecalang dan Ojol Bersatu, Polri Perkuat Kamtibmas untuk Jaga Bali
Polri Kuatkan Kamtibmas, Satukan Pecalang & Ojol untuk Jaga Bali
Polri Perkuat Sabuk Kamtibmas, Pecalang dan Ojol Bersatu Jaga Bali
Berita ini 0 kali dibaca

Baca Juga

Senin, 27 Juli 2026 - 13:40

Kematian Karumga Eks Jampidsus: “FRIC Desak Penyelidikan Transparan dan Tanpa Ditutupi”

Selasa, 21 Juli 2026 - 00:03

Sebut Ketum PWOD: “Ini Jiwa Besar Penegak Hukum Hotman Paris Pilih Merunduk dari Ucapan Kontroversial ke Sikap Legowo”

Senin, 20 Juli 2026 - 23:51

Sebut Ketum PWOD: “Ini Jiwa Besar Penegak Hukum Hotman Paris Hutapea Pilih Merunduk dari Ucapan Kontroversial ke Ucapan Legowo”

Sabtu, 18 Juli 2026 - 16:00

Ketum FRIC Dian Surahman Tegaskan: “Penangkapan tak Butuh Restu Presiden, Hukum Berjalan Sesuai Aturan”

Sabtu, 18 Juli 2026 - 11:46

Tokoh Muslim Tionghoa: “Jembatan Kebangsaan yang tak Boleh Dulupakan” Lugas, Tajam, Berani Menatap Realitas Pluralisme Indonesia

News Update