Perempuan Tidak Boleh Lagi Diam: “Wajib Berpendidikan, Mandiri dan Berani Melawan Ketidakadilan”

- Redaktur

Selasa, 21 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Momentum peringatan Raden Ajeng Kartini setiap bulan April seharusnya tidak hanya berhenti pada seremoni dan simbolisasi. Lebih dari itu, hari Kartini adalah ruang refleksi—tentang sejauh mana perempuan benar-benar merdeka dalam kehidupan nyata. Fakta yang tidak bisa kita tutup mata: angka pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, penganiayaan, hingga eksploitasi terhadap perempuan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Endang Hastuty Bunga, SH., Pengacara Muda perempuan asal Bali–Kupang NTT, yang memiliki darah keturunan Mama asli Sabu NTT dan Papa asli Bali, menyampaikan pernyataan tegasnya dalam momentum ini. Sebagai Ketua Tunas Himpunan Advokat Muda Indonesia Bali, Ketua DPC Peradi Pasni Denpasar, Ketua dan Pendiri Komunitas Peduli Perempuan dan Anak Bali, aktivis perempuan dan anak Bali, Ketua Srikandi Forum Pemuda NTT Bali, bagian dari Tim Badan Hukum Ikatan Wartawan Online Bali, serta Ketua Badan Hukum DPD NasDem Bali—ia menegaskan bahwa persoalan perempuan bukan sekadar isu sosial, tetapi sudah menjadi persoalan kemanusiaan yang serius.

“Saya berbicara bukan hanya sebagai seorang advokat, tetapi sebagai perempuan yang melihat langsung realitas di lapangan. Perempuan bukan lemah, tetapi sering dilemahkan oleh sistem, budaya, dan pola pikir yang salah,” tegas Endang, pada Selasa (21/04/2026).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menyoroti bagaimana doktrin sosial yang menempatkan laki-laki sebagai “kepala” sering kali disalahartikan, sehingga perempuan dipaksa untuk tunduk tanpa ruang untuk bersuara. Akibatnya, banyak perempuan yang akhirnya memilih diam meskipun mengalami ketidakadilan.

“Diam bukan solusi. Diam justru memperpanjang penderitaan. Perempuan harus berani bersuara ketika diperlakukan tidak adil,” lanjutnya.

Menurutnya, salah satu akar masalah terbesar adalah rendahnya akses terhadap pendidikan dan kemandirian. Banyak perempuan yang terjebak dalam kondisi tidak berdaya karena tidak memiliki bekal untuk melawan keadaan.

“Pesan saya sangat jelas dan tidak bisa ditawar: perempuan harus berpendidikan. Pendidikan adalah kunci yang membuka banyak pintu. Tanpa pendidikan, perempuan akan terus berada dalam posisi rentan,” ujarnya dengan tegas.

Baca Juga:  DPC IWAPI Kota Denpasar Gelar Kartini Awards 2026: "Apresiasi Srikandi Penggerak UMKM"

Selain pendidikan, Endang juga menekankan pentingnya kemandirian finansial bagi perempuan.

“Perempuan harus bisa mencari uang sendiri. Bukan untuk menyaingi laki-laki, tetapi agar tidak menjadi beban dan memiliki kekuatan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Kemandirian itu adalah bentuk perlindungan diri,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar perempuan mampu memisahkan antara perasaan dan karier, terutama dalam dunia profesional yang menuntut ketegasan dan rasionalitas.

“Perasaan itu manusiawi, tetapi jangan sampai mengendalikan masa depan. Perempuan harus kuat secara emosional, namun tetap rasional dalam mengambil keputusan,” tambahnya.

Dalam pandangannya, perempuan juga harus mengubah cara melihat dirinya sendiri, termasuk dalam hal kecantikan.

“Kita boleh ingin tampil cantik, itu wajar. Tapi jangan biarkan dunia mendikte standar cantik kita. Cantik itu bukan hanya fisik, tetapi bagaimana kita berpikir, bertindak, dan memberi dampak,” jelas Endang.

Ia menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki bukanlah pihak yang saling berlawanan, melainkan harus menjadi partner yang saling melengkapi dalam kehidupan.

“Kesetaraan bukan tentang siapa lebih unggul, tetapi tentang saling menghargai. Perempuan tidak perlu merendahkan diri, dan laki-laki juga bukan musuh,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Endang menyampaikan pesan yang paling menohok dan menjadi seruan bagi seluruh perempuan Indonesia:

“Perempuan harus berpendidikan. Perempuan harus mandiri. Perempuan harus berani bersuara. Jika kita tidak memperjuangkan diri kita sendiri, maka tidak ada yang akan melakukannya untuk kita.”

Momentum Hari Kartini tahun ini, menurutnya, harus menjadi titik balik bagi perempuan untuk bangkit, keluar dari bayang-bayang ketidakadilan, dan berdiri sebagai pribadi yang kuat, mandiri, serta berdaya.

“Ini bukan lagi sekadar wacana. Ini adalah keharusan,” tutup Endang Hastuty Bunga, SH.

Penulis : Redaksi

Editor : Juli ESP

Sumber Berita: Endang H.B.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kelapasatunews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Juga

Resmi Diluncurkan, Yayasan Sosial Ummat Palapa Pecatu Tambah Unit Ambulans Kedua demi Masyarakat
Paguyuban Purnapas Kerobokan Reuni, Susun Struktur Organisasi Sesuai AD/ART Menuju Purnapas Pusat
Teladani Sifat Siddiq Amanah Fathanah, CV ABJ Gelar Maulid Nabi: “Jadikan Akhlak Rasulullah Landasan Integritas Kerja”
Korupsi Sumber Daya Alam: “Kajari Kota Bogor Raih Doktor dengan Usulan Perubahan Regulasi”
Agus Wirawan Eko Saputra, Kajari Kota Bogor, Resmi Sandang Gelar Doktor Ilmu Hukum Unud
Sidang Terbuka Promosi Doktor: “Kajari Kota Bogor Pertahankan Disertasi Reformulasi Kerugian Perekonomian Negara”
Bergerak, Berjejaring, Berdaya”: PBPI & IWAPI Denpasar Kolaborasi Kembangkan Ekosistem Padel & UMKM Perempuan
Bersama DPC Se-Bali, FRIC DPW Bali Susun Langkah Nyata bagi Masyarakat
Berita ini 0 kali dibaca

Baca Juga

Minggu, 6 September 2026 - 00:50

Resmi Diluncurkan, Yayasan Sosial Ummat Palapa Pecatu Tambah Unit Ambulans Kedua demi Masyarakat

Sabtu, 5 September 2026 - 15:30

Paguyuban Purnapas Kerobokan Reuni, Susun Struktur Organisasi Sesuai AD/ART Menuju Purnapas Pusat

Senin, 31 Agustus 2026 - 08:14

Teladani Sifat Siddiq Amanah Fathanah, CV ABJ Gelar Maulid Nabi: “Jadikan Akhlak Rasulullah Landasan Integritas Kerja”

Selasa, 25 Agustus 2026 - 05:46

Korupsi Sumber Daya Alam: “Kajari Kota Bogor Raih Doktor dengan Usulan Perubahan Regulasi”

Selasa, 25 Agustus 2026 - 05:39

Agus Wirawan Eko Saputra, Kajari Kota Bogor, Resmi Sandang Gelar Doktor Ilmu Hukum Unud

News Update