Tokoh Muslim Tionghoa: “Jembatan Kebangsaan yang tak Boleh Dulupakan” Lugas, Tajam, Berani Menatap Realitas Pluralisme Indonesia

- Redaktur

Sabtu, 18 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wacana kebangsaan sering terjebak dalam kotak identitas. Padahal sejarah dan realitas hari ini menunjukkan: Islam dan ke-Tionghoaan tidak pernah bertentangan dengan Indonesia. Dirilis hari ini, pada Sabtu (18/07/2026).

Buktinya ada pada _Tokoh Muslim Tionghoa di Indonesia_. Mereka ada di mimbar dakwah, di ruang sidang DPR, di barak TNI, di kantor perusahaan, sampai di pesantren. Dan banyak dari mereka aktif di _PITI – Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia_.

Mereka adalah bukti hidup bahwa menjadi Muslim, menjadi Tionghoa, dan menjadi Indonesia bisa jalan beriringan. Tanpa harus menghapus satu sama lain.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

*1. Dari Mimbar Dakwah Hingga Aksi Sosial*
Di lini depan organisasi dan dakwah, nama-nama ini tak asing:

– *Dr. Ipong Hembing Putra* – Ketum DPP PITI. Dijuluki _Panglima Cheng Ho Indonesia_. Fokusnya jelas: dakwah, persatuan, dan pemberdayaan umat Tionghoa Muslim.
– *H. Jusuf Hamka* – Pengusaha jalan tol yang lebih dikenal karena masjid, pesantren, dan sedekahnya. Mualaf yang mematahkan stigma: kaya boleh, tapi dermawan wajib.
– *K.H. Basri Abdullah / A. Basri* – Ketua Dewan Syariah PITI. Ulama Tionghoa yang suaranya kini mengisi ruang-ruang kajian nasional.
– *H. Tedy Wijaya* – Sekjen DPP PITI. Tulang punggung pembinaan mualaf dan kegiatan sosial.

Mereka tidak hanya bicara. Mereka membangun.

*2. Di Pemerintahan dan Pertahanan Negara*
Narasi “mereka tidak nasionalis” runtuh di sini.

– *H. Muhammad Al-Hadid* – Mantan anggota DPRD DKI dari keturunan Tionghoa Muslim.
– *Mayor Jenderal TNI Marinir Said Latuconsina* – Perwira tinggi TNI keturunan Tionghoa Muslim yang aktif menjaga nilai kebangsaan.[Purn]

Ini tamparan bagi yang masih meragukan loyalitas. Mereka sudah mengabdi dengan darah dan keringat untuk Merah Putih.

Baca Juga:  Sosok Sederhana, Ketum FRIC Siap Dikritik & Terima Masukan Anggota Demi Majunya Organisasi

*3. Di Dunia Usaha dan Filantropi*
Kekuatan ekonomi mereka tidak dipakai untuk eksklusif. Justru untuk umat.

– *H. Anthony Salim* – Keluarga Salim, beberapa anggotanya Muslim. CSR dan pembangunan masjid jadi jejak nyata.
– *H. Sofjan Wanandi* – Pengusaha senior. Keluarga besarnya aktif masuk Islam dan bergerak di sosial.
– *H. Tomy Winata* – Dekat dengan kegiatan keagamaan dan sering bersilaturahmi dengan PITI.

Filantropi mereka bukan pencitraan. Ini investasi sosial untuk kerukunan.

*4. Akar Sejarah yang Dalam*
Jangan lupakan akar.

– *Laksamana Cheng Ho* – Meski bukan WNI, semangat dakwah dan perdamaiannya hidup di Semarang, Surabaya, Tuban. Makam dan kelentengnya jadi simbol toleransi.
– *Sunan Ampel* – Salah satu Wali Songo. Beberapa riwayat menyebut beliau keturunan Tionghoa. Artinya, Islam Nusantara sejak awal memang multietnis.

*Misi PITI: 3 Identitas Sekaligus*
Ciri khas mereka satu: gabung di PITI dengan misi _menjaga identitas Tionghoa + keislaman + kebangsaan_.

Fokusnya bukan politik identitas. Tapi 4 hal konkret: dakwah, pendidikan, ekonomi umat, dan menjaga kerukunan.

Ini penting. Di tengah polarisasi, PITI menunjukkan model integrasi tanpa asimilasi paksa. Tetap Tionghoa, tetap Muslim, tetap Indonesia.

*Penutup: Jangan Lagi Dikotak-kotakkan*
Negara ini kuat karena beragam. Tokoh Muslim Tionghoa adalah bukti bahwa perbedaan bukan ancaman, tapi kekuatan.

Sudah saatnya kita berhenti bertanya “kamu pihak mana”. Dan mulai bertanya “kamu sudah berbuat apa untuk bangsa ini”.

Karena pada akhirnya, yang diuji bukan marganya, bukan logatnya. Tapi amal dan baktinya untuk negeri ini.

Penulis : Redaksi

Editor : Juli ESP

Sumber Berita: Humas PITI Pusat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kelapasatunews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Juga

Ikat Erat Pecalang dan Ojol Bersatu, Polri Perkuat Kamtibmas untuk Jaga Bali
Polri Kuatkan Kamtibmas, Satukan Pecalang & Ojol untuk Jaga Bali
Polri Perkuat Sabuk Kamtibmas, Pecalang dan Ojol Bersatu Jaga Bali
Kapolri Serap Aspirasi Pecalang dan Ojek Online, Perkuat Kemitraan Jaga Bali Aman
Silaturahmi Sabuk Kamtibmas: “Kapolri Tegaskan Sinergi Kokoh dengan Pecalang Bali”
Dengar Langsung Masalah Tarif hingga Parkir, Kapolri Minta Polda Bali Segera Cari Solusi
27 Ribu Pecalang Siap Bersinergi, Kapolri: Keamanan Bali Tanggung Jawab Bersama”
Kapolri Minta Optimalisasi Layanan 110 dan Solusi Mekanisme Parkir bagi Ojek Online
Berita ini 0 kali dibaca

Baca Juga

Sabtu, 18 Juli 2026 - 11:46

Tokoh Muslim Tionghoa: “Jembatan Kebangsaan yang tak Boleh Dulupakan” Lugas, Tajam, Berani Menatap Realitas Pluralisme Indonesia

Kamis, 16 Juli 2026 - 08:26

Ikat Erat Pecalang dan Ojol Bersatu, Polri Perkuat Kamtibmas untuk Jaga Bali

Kamis, 16 Juli 2026 - 08:21

Polri Kuatkan Kamtibmas, Satukan Pecalang & Ojol untuk Jaga Bali

Kamis, 16 Juli 2026 - 08:17

Polri Perkuat Sabuk Kamtibmas, Pecalang dan Ojol Bersatu Jaga Bali

Kamis, 16 Juli 2026 - 08:11

Kapolri Serap Aspirasi Pecalang dan Ojek Online, Perkuat Kemitraan Jaga Bali Aman

News Update