Semangat Pagi: “Sembunyi di Balik Kesombongan”

Oleh: KBP Jansen Avitus Panjaitan
Selamat pagi dan semangat untuk memulai hari yang baru.
Ada satu beban yang paling berat untuk dipikul, namun paling ringan untuk dihilangkan: kesombongan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kesombongan adalah beban yang melelahkan. Orang yang memelihara rasa sombong harus selalu berpura-pura kuat, tampil sempurna, dan terlihat lebih dari yang sesungguhnya. Padahal, di balik semua itu, kita tetaplah makhluk kecil yang rapuh — sama rapuhnya seperti orang lain.
Jangan pernah merasa lebih unggul dibanding orang lain. Rasa itulah yang menjadi awal dari kebutaan hati. Ketika kita merasa lebih tinggi, kita berhenti melihat kelebihan orang lain. Ketika kita merasa lebih pintar, kita berhenti belajar. Dan pada akhirnya, kita bukan sedang mengalahkan saingan kita — kita justru sedang menghancurkan diri kita sendiri.
Sadarilah satu kebenaran yang sederhana namun agung: kita semua berasal dari tanah, sama-sama menginjak tanah ini, dan suatu saat nanti kita semua akan kembali kepada tanah.
Di hadapan kebenaran itu, kemuliaan apa yang bisa kita banggakan? Jabatan? Harta? Pujian? Semua itu akan tertinggal di sini, sementara kita pulang membawa hanya amal dan kebaikan yang pernah kita tabur.
Maka, buatlah hidup ini bermakna bukan dengan meninggikan diri, tetapi dengan merendahkan hati. Bukan dengan memuji diri sendiri, tetapi dengan memuliakan orang lain. Bukan dengan merasa lebih baik dari sesama, tetapi dengan menyadari bahwa di hadapan Tuhan, kita semua setara — sama-sama butuh pertolongan dan kasih sayang-Nya.
Semoga pagi ini hati kita lebih lapang, langkah kita lebih ringan, dan senyum kita lebih tulus, karena kita tahu: rendah hati bukan berarti kita lemah — justru di sanalah kekuatan sejati kita bermula.
Selamat beraktivitas, semoga hari kita penuh berkah dan kebaikan.
Pewarta: Juli
Penulis : Redaksi
Editor : Juli ESP
Sumber Berita: Redaksi/KBP Jansen Avitus Panjaitan






