Alam dan Akhlak: “Rumah yang Dijaga, Bukan Mangsa yang Dihabisi”

Oleh: KBP Jansen Avitus Panjaitan
Semangat Pagi…!!!
Ketika akhlak suatu bangsa merosot, alam tidak lagi menjadi ibu yang mengasuh, melainkan saksi bisu yang ikut layu. Pepohonan kehilangan rindangnya, sungai kehilangan jernihnya, dan udara pun perlahan tak lagi segar untuk dihirup. Alam yang asri hanya mau bersemi di bawah asuhan manusia yang berbudi luhur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jangan bermimpi melihat alam yang senantiasa subur dan terjaga, jika karakter bangsa masih terkubur dalam kehancuran moral. Seringkali kita lupa: karakter yang kuat dan baik adalah air yang menghidupkan jiwa, sekaligus pupuk yang menyuburkan semesta ini. Keduanya tak dapat dipisahkan, bagaimana kita bisa menjaga bumi, jika kita belum mampu menjaga diri sendiri?
Maka, tanamlah terlebih dahulu benih karakter yang baik dan kuat di dalam diri. Bangunlah akhlak yang mulia, karena itu sesungguhnya adalah ibadah tertinggi kepada semesta. Manusia yang beradab selalu memperlakukan bumi sebagai rumah yang dijaga bersama, bukan mangsa yang dihabisi sesuka hati.
Bumi ini bukan warisan semata, melainkan titipan untuk dijaga. Dan menjaganya dimulai dari satu hal sederhana: memperbaiki diri.
Selamat beraktivitas, semoga hari ini kita menjadi bagian dari solusi, bukan kerusakan.
Penulis : Redaksi
Editor : Juli ESP
Sumber Berita: Redaksi/Jansen A Panjaitan






