Buleleng – Menjadi wartawan lapangan sering kali berarti siap menghadapi situasi tak terduga. Namun, pengalaman Heru saat meliput di Desa Pelapuan, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, pada Jumat (6/11/2026) sekitar pukul 12.00 WITa, tampaknya akan menjadi salah satu catatan perjalanan jurnalistik yang paling berkesan sekaligus menghibur.
Berangkat dengan semangat mencari informasi hingga ke pelosok desa, Heru justru dihadapkan pada kejadian di luar rencana. Bukannya langsung menemukan narasumber penting, ia malah kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan. Saat menghentikan sepeda motornya, situasi mendadak berubah. Seekor anjing tiba-tiba menggonggong dengan suara keras, dan gonggongan itu semakin menjadi-jadi sebelum Heru sempat mencari tahu asalnya.
Naluri bertahan hidup pun mengambil alih tugas jurnalistik. Heru lari terbirit-birit meninggalkan sepeda motornya. Tidak ada lagi kamera, catatan wawancara, apalagi pertanyaan 5W1H yang sempat dipersiapkan. Yang ada hanya satu tujuan: menyelamatkan diri dari kejaran anjing.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pelariannya, Heru melewati rumah warga Gede Sumertayasa. Melihat Heru berlari kalang kabut, Gede langsung berteriak memanggil dan berusaha menolong. Heru pun berhasil mencapai tempat aman. Setelah situasi tenang, ia diajak singgah ke rumah Gede Sumertayasa, di mana ia dibuatkan secangkir kopi untuk menenangkan diri setelah kejadian yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Dengan wajah yang masih menyimpan ketegangan, Heru menyampaikan rasa terima kasihnya kepada sang penolong.
“Terima kasih Pak Gede Sumertayasa yang telah menyelamatkan saya. Nyawa saya tinggal lagi satu,” ucap Heru dengan nada penuh dramatis.
Ucapan itu pun menggambarkan betapa menegangkan pengalaman yang baru saja ia lalui. Entah seberapa cepat ia berlari saat itu, yang jelas, mungkin atlet lari pun perlu mempertimbangkan Heru sebagai pesaing baru.
Namun, petualangan Heru ternyata belum selesai. Dalam perjalanan mencari berita, ia juga bertemu seseorang yang diduga mengalami gangguan kejiwaan. Anehnya, orang tersebut justru meminta agar dirinya diberitakan karena merasa sehat walafiat. Bahkan, ia sempat menyanyikan lagu “Aku masih seperti yang dulu.”
Heru pun kembali dibuat bingung. Berangkat mencari berita tentang kehidupan masyarakat, malah mendapatkan permintaan dari seseorang yang ingin namanya masuk pemberitaan.
Perjalanan di Pelapuan hari itu akhirnya menyuguhkan cerita lengkap: kehabisan bensin, dikejar anjing, diselamatkan warga, disuguhi kopi, hingga bertemu calon narasumber yang meminta dirinya diberitakan.
Inilah suka duka wartawan lapangan. Ada kalanya harus mengejar narasumber, menghadapi pejabat yang sulit dikonfirmasi, dan mengejar fakta. Namun bagi Heru, Jumat siang itu memberikan pelajaran baru: jangan pernah meremehkan gonggongan anjing, sebab satu gonggongan bisa membuat seorang wartawan melupakan seluruh agenda liputannya.
Dan yang tidak kalah penting, secangkir kopi dari Pak Gede Sumertayasa hari itu mungkin menjadi kopi paling nikmat sepanjang perjalanan jurnalistik Heru.
Salam satu pena, tetapi kalau ada anjing mengejar, lari dulu, berita belakangan!
Penulis: Gede Sumertayasa, S.H.
Editor: JESP.
Pewarta: Juli.
Penulis : Redaksi
Editor : Juli ESP
Sumber Berita: Gede S






